Foto
Sanggar Prabangkara oleh Dolly Nofer
Minggu malam (11/11) alun-alun
Magetan kembali mengumandangkan musik ledhug dalam Festival Seni Pertunjukan
Musik Ledhug. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, dalam festival yang
merupakan bagian dari serangkain perayaan 1 Suro 1946 Saka dan 1 Muharram 1434
Hijriyah di malam ini diwarnai dengan keceriaan baru. Sanggar Prabangkara di
awal pertunjukan sanggup memberi atmosfer baru di panggung ini. Komposisi musik
yang mereka usung bertemakan Magetan Kota Wisata berdurasi 15 menit. Musik
ledhug yang merupakan musik endemik di kabupaten ini, digarap dengan
kreatifitas musikal yang eksperimental. Mereka mensejajarkan permainan lesung
dan bedhug dengan alat-alat musik non elektrik lain seperti saron, taganing,
djembe, kendhang jaipong, drum, saxophone dan didgeridu. Teknik memainkan
alat-alat musik yang mempunyai kearifannya sendiri itupun terkesan berani.
Taganing dimainkan selayaknya memainkan sebuah drum, dan saron Jawa dimainkan
dengan teknik tabuhan imbal-imbalan seperti pada gamelan Bali. Mereka juga
memasukkan unsur musik rap ke dalam garapan lagu. Pieter (17), salah seorang
penonton yang duduk di deretan depan terlihat sangat antusias. Musik yang
didengarkannya dianggapnya berbeda dengan yang lain. Remaja ini rupanya
menyukai permainan musik dengan tempo yang cepat dan terlihat garang. Lagi,
Java Jine yang permainan djembenya sangat memukaukan penonton menambah semangat
pertunjukan malam ini. Dengan membawakan lima karya, kelompok musik ini mencoba
memadu-padankan musik African style
dun-dun dengan djembe, dan lesung dengan djembe. Mereka mencoba memenuhi
kegemaran masyarakat Magetan yang identik dengan ledhugnya, meski tidak
memainkan lesung dan bedhug dalam satu karya. Eksplorasi gaya pembawaannya juga
beragam sehingga memancing komunikasi dua arah antar pemain dengan penikmatnya.

Penampilan Java Jine oleh Dolly Nofer
Festival Seni Pertunjukan Musik
Ledhug ini berlangsung tanggal 9 November hingga 12 November 2012. Tanggal 11
November 2012 merupakan pertunjukan ekshibisi dari luar daerah Magetan. Diikuti
oleh grup-grup musik seperti Sanggar Prabangkara, ekshibisi dari Pacitan,
Karanganyar, Sragen, Prambanan dan Java Jine dari Solo. Pertunjukan musik yang
diawali pada pukul 20:00 WIB ini berlangsung hingga pukul 23:00 WIB dengan
kapasitas penonton yang semakin ramai dari hari sebelumnya. Perwakilan dari
peserta ekshibisi mendapat penghargaan khusus dari pemerintah Kabupaten Magetan.
Musik yang adaptif
Musik ledhug merupakan musik
rakyat yang diagendakan setiap tahunnya. Bahkan nama ledhug diambil untuk
memaknai pergantian tahun Jawa dan Islam. Dengan demikian, ledhug mempunyai
kekuatan yang tidak remeh ketika seharusnya dihadirkan dalam prosesi kirab
nayoko projo. Musik ledhug sebenarnya merupakan musik yang adaptif karena bisa
dimainkan dengan alat musik apa saja. Selain adaptif, musik ini juga bisa
berdiri sendiri. Pemusik bisa memanfaatkan sifat musik ledhug ini untuk menhasilkan
komposisi yang baik dan disukai banyak orang. Tanpa harus kehilangan esensi,
lesung dan bedhug seharusnya dibunyikan dengan arif untuk mereka ulang kembali
sejarah terkait eksistensi Magetan itu sendiri. Menyadari fungsinya yang
digunakan dalam hari yang agung, ledhug bukan sekedar musik untuk hura-hura,
tetapi juga untuk perenungan, penghayatan, dan pemaknaan nilai-nilai luhurnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar