Kamis, 24 April 2014

SANGGAR PRABANGKARA DAN JAVAJINE WARNA BARU DALAM EKSHIBISI FESTIVAL LEDHUG

IMG_6969.JPG


Foto Sanggar Prabangkara oleh Dolly Nofer

Minggu malam (11/11) alun-alun Magetan kembali mengumandangkan musik ledhug dalam Festival Seni Pertunjukan Musik Ledhug. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, dalam festival yang merupakan bagian dari serangkain perayaan 1 Suro 1946 Saka dan 1 Muharram 1434 Hijriyah di malam ini diwarnai dengan keceriaan baru. Sanggar Prabangkara di awal pertunjukan sanggup memberi atmosfer baru di panggung ini. Komposisi musik yang mereka usung bertemakan Magetan Kota Wisata berdurasi 15 menit. Musik ledhug yang merupakan musik endemik di kabupaten ini, digarap dengan kreatifitas musikal yang eksperimental. Mereka mensejajarkan permainan lesung dan bedhug dengan alat-alat musik non elektrik lain seperti saron, taganing, djembe, kendhang jaipong, drum, saxophone dan didgeridu. Teknik memainkan alat-alat musik yang mempunyai kearifannya sendiri itupun terkesan berani. Taganing dimainkan selayaknya memainkan sebuah drum, dan saron Jawa dimainkan dengan teknik tabuhan imbal-imbalan seperti pada gamelan Bali. Mereka juga memasukkan unsur musik rap ke dalam garapan lagu. Pieter (17), salah seorang penonton yang duduk di deretan depan terlihat sangat antusias. Musik yang didengarkannya dianggapnya berbeda dengan yang lain. Remaja ini rupanya menyukai permainan musik dengan tempo yang cepat dan terlihat garang. Lagi, Java Jine yang permainan djembenya sangat memukaukan penonton menambah semangat pertunjukan malam ini. Dengan membawakan lima karya, kelompok musik ini mencoba memadu-padankan musik African style dun-dun dengan djembe, dan lesung dengan djembe. Mereka mencoba memenuhi kegemaran masyarakat Magetan yang identik dengan ledhugnya, meski tidak memainkan lesung dan bedhug dalam satu karya. Eksplorasi gaya pembawaannya juga beragam sehingga memancing komunikasi dua arah antar pemain dengan penikmatnya.
IMG_7029.JPG
Penampilan Java Jine oleh Dolly Nofer
Festival Seni Pertunjukan Musik Ledhug ini berlangsung tanggal 9 November hingga 12 November 2012. Tanggal 11 November 2012 merupakan pertunjukan ekshibisi dari luar daerah Magetan. Diikuti oleh grup-grup musik seperti Sanggar Prabangkara, ekshibisi dari Pacitan, Karanganyar, Sragen, Prambanan dan Java Jine dari Solo. Pertunjukan musik yang diawali pada pukul 20:00 WIB ini berlangsung hingga pukul 23:00 WIB dengan kapasitas penonton yang semakin ramai dari hari sebelumnya. Perwakilan dari peserta ekshibisi mendapat penghargaan khusus dari pemerintah Kabupaten Magetan.
Musik yang adaptif

Musik ledhug merupakan musik rakyat yang diagendakan setiap tahunnya. Bahkan nama ledhug diambil untuk memaknai pergantian tahun Jawa dan Islam. Dengan demikian, ledhug mempunyai kekuatan yang tidak remeh ketika seharusnya dihadirkan dalam prosesi kirab nayoko projo. Musik ledhug sebenarnya merupakan musik yang adaptif karena bisa dimainkan dengan alat musik apa saja. Selain adaptif, musik ini juga bisa berdiri sendiri. Pemusik bisa memanfaatkan sifat musik ledhug ini untuk menhasilkan komposisi yang baik dan disukai banyak orang. Tanpa harus kehilangan esensi, lesung dan bedhug seharusnya dibunyikan dengan arif untuk mereka ulang kembali sejarah terkait eksistensi Magetan itu sendiri. Menyadari fungsinya yang digunakan dalam hari yang agung, ledhug bukan sekedar musik untuk hura-hura, tetapi juga untuk perenungan, penghayatan, dan pemaknaan nilai-nilai luhurnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar