Setiap
daerah di Nusantara mempunyai kearifan lokalnya masing-masing. Di Kabupaten Magetan,
pergantian tahun Saka dan Hijriyah dianggap penting bagi beberapa
masyarakatnya. Pemerintah daerah dan dinas kebudayaan sebagai pusat pergerakan
budaya di kabupaten ini menyelenggarakan ‘ledhug Sura’. Musik ledhug dalam
perayaan ini dimaknai sebagai lesung Sura dan bedhug Muharram yang merupakan
perpaduan dua budaya besar di Magetan. Musik ini unik, karena merepresentasikan
Magetan di mata Nasional dengan kebudayaan negeri perbatasannya, Jawa Tengah
dengan Jawa Timur. Di tahun 2012, Magetan secara khusus menyelenggarakan
ekshibisi ledhug dari luar daerah seperti Prambanan, Pacitan, Karanganyar, dan
Solo. Dalam kurun waktu yang cukup panjang 10 tahun ini, musik ledhug
mendapatkan tempat di hati masyarakatnya. Hal itu dapat diamati dari festival
musik ledhug - bagian dari serangkaian besar acara peringatan tahun baru
tersebut. Menurut Sutadi – penikmat yang repetitif, dari tahun ke tahun, penonton
yang hadir makin ramai. Aton Rustandi – etnomusikolog yang saat itu juga
mengamati jalannya festival mengatakan, bahwa pertunjukan musik ledhug ini akan
terus hidup dan bertahan hingga waktu yang lama. Karena bukan hanya didukung
oleh kebijakan pemerintah daerah setempat, acara ini juga didukung oleh seluruh
lapisan masyarakat. Sebagai sebuah pasar, ledhug juga mampu menstimulasi
kembali seniman-seniman yang ada di Magetan untuk terus bereksplorasi dengan
seni.

Performa
Ledhug Dinas Pendidikan oleh Dolly Nofer
Ledhug Sebagai Bentuk
Reproduksi Budaya
Musik ledhug merupakan hasil dari reproduksi
budaya. Reproduksi budaya merupakan upaya pemaknaan ulang budaya. Indukannya
adalah pemadu-padanan budaya Jawa dan Islam yang masing-masing diwakilkan oleh
citra lesung dan bedhug. Menyadari fungsinya yang digunakan dalam hari yang
agung, ledhug bukan sekedar musik untuk hura-hura, tetapi juga untuk
perenungan, penghayatan, dan pemaknaan nilai-nilai luhurnya.
Lesung
sebagai perkakas yang urgen dalam proses penumbukan padi menjadi beras, menjadi
wadah kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan keseharian masyarakat Jawa.
Ketika nada pukulan alu lesung dikomposisi dalam pertimbangan warna suara,
ritme dan juga dinamika, akan menghasilkan estetika musikal yang luhur. Musik
yang berbahasa itu membawakan sepenggal kisah kehidupan petani kepada kita. Dengan
alu yang ternyata tidak ringan, pemain lesung sekarang dapat merasakan betapa susahnya
kerja petani kita dahulu sebelum hadirnya mesin, hanya untuk menghasilkan
sebutir beras putih yang kita makan sebagai makanan pokok.
Bedhug
mewakili citra Islami dari sekian banyak ikon yang ada. Dari sejarah budaya
yang kita tahu, bedhug tidak serta merta mewakili agama apapun, termasuk Islam.
Namun dalam tumbuh kembangnya di Nusantara, bedhug memiliki fungsi yang urgen
dalam kegiatan peribadahan, yaitu mengumandangkan azan dari masjid kepada
jemaahnya. Bedhug digunakan untuk mengkomunikasikan waktu untuk sholat. Kita
tilik kembali ke masa lampau betapa masyarakat kita yang masih dominan dengan
kehidupan pedesaan sangat memanfaatkan bedhug ini. Suaranya yang membahana
mampu menjadi penanda yang efektif kala itu. Berbeda dengan di masa kita dewasa
ini yang menggunakan televisi maupun alarm di dalam handphone maupun personal
computer yang sedemikian rupa dapat menghasilkan replika suara bedhug
(suara bedhug elektronik) lengkap dengan seruan muadzinnya. Melalui pemaknaan
kembali musik yang dihasilkan dari bedhug ini mengingatkan kita untuk
mengharmoniskan hubungan kita secara vertikal kepada Yang Esa. Nada rendah dan
berat yang dihasilkan dari tabuhan bunyi bedhug juga dapat diinterprestasi
sebagai simbol keagungan.
Spirit
budaya tradisi itulah yang ingin dihadirkan oleh penyelenggara dalam format
kebaruan. Nilai positif yang dapat dipetik di situ adalah bagaimana proses
penciptaan itu mampu mewadahi keberagaman dalam kebersamaan dan kesatuan di
dalam panggung festival. Garapan musik grup ledhug bisa sangat eksperimental. Berbagai
alat musik dikolaborasikan dalam pencarian warna musikal yang masih terus koma
untuk mencapai titik nilai estetis paling tinggi di dalam bermusik. Rasa
kekeluargaan juga hadir antara pemain satu sama lain di dalam satu grup musik,
antar grup musik lain, dengan pihak penyelenggara maupun antara pemain dengan
penikmatnya. Seluruh masyarakat tanpa terkecuali dapat menikmati sajian musik
ini.
Sifat Ledhug yang
Adaptif
Musik
ledhug sebenarnya merupakan musik yang adaptif karena bisa dimainkan dengan
alat musik apa saja. Ledhug juga dapat digunakan untuk mengiringi sajian lagu. Dalam
festival, repetoar yang sering disajikan antara lain: Pepeling, Magetan Ngumandhang, Telaga
Sarangan dan Lir-ilir. Unsur
melodis bisa dihasilkan oleh alat musik tambahan seperti saron, bonang,
angklung dan alat musik lain, sedangkan unsur perkusi bisa diisi oleh lesung,
bedhug dan atau ditambahkan dengan alat musik lain seperti djembe, kendhang dan
rebana.
Dalam
sifat adaptifnya pula, musik ledhug rawan hampa makna. Beberapa komposisi
memberi warna baru, sehingga warna ledhug sendiri menjadi buram dalam
pencitraannya di masyarakat. Memang tidak ada pakem yang menuntut musik ledhug
harus begini dan begitu. Namun dibutuhkan komitmen yang tinggi dari seorang
seniman dalam proses penciptaan yang dituang dalam komposisi musik ledhug.
Selain
adaptif, musik ini juga dapat berdiri sendiri. Pemusik bisa memanfaatkan sifat
musik ledhug ini untuk menghasilkan komposisi yang baik dan disukai banyak
orang. Bisa saja dengan permainan warna bunyi tek, dung, deg, thek, yang berbeda-beda
variannya, dalam ritme dan dinamika.
Festival
Ledhug dan Bocah Cilik

Tiga anak kecil
di depan panggung ledhug oleh Dolly Nofer
Festival
Musik Ledhug yang menjadi ajang pencarian komposisi musik ledhug yang nantinya
akan ditampilkan dalam kirab nayoko projo, menjadi media transpirit yang ampuh
bagi generasi yang akan datang. Penonton hadir dari berbagai kalangan, dan
anak-anak kecil usia balita hingga remajalah yang menarik perhatian saya.
Mengamati tingkah dan ekspresi mereka yang lugu, memancing tanya tentang apa
yang mengundang mereka untuk datang dan bahkan berebut mendapatkan posisi
penonton paling depan. Mungkinkah mereka sangat tertarik dengan gaung musik
ledhug yang kebyar? Kesan apakah yang ditangkap di dalam benak mereka?
Tidak
hanya menonton kakak-kakak SMA yang berpartisipasi dalam festival hari kedua
tanggal 10 November 2012 misalnya, penonton anak-anak juga memadati area di
hari-hari yang lain. Bagaimanapun kerasnya usaha pelawak untuk berbuat kocak,
anak-anak ini tetap diam saja. Dibanding dengan penonton dewasa yang mungkin
lebih bisa membaca secara audio-visual, tidak banyak wacana verbal yang dapat
membekas di benak anak-anak kecuali warna-warna dan gerakan-gerakan yang mencolok.
Apalagi bahasa melalui lirik yang diwacanakan di dalam lagu ataupun gendhing-gendhing yang disajikan di atas
panggung. Kehadiran anak-anak ini tidak bisa diabaikan. Karena di usia mereka
yang rata-rata di bawah usia belasan, merupakan masa-masa yang paling kuat
dalam menangkap suatu citra visual. Suatu saat merekalah yang mempunyai
keinginan kuat untuk ambil bagian dalam pertunjukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar