Kamis, 24 April 2014

KUBU PERFEKSIONIS


Aku takut keluar dari rahim ibu
Aku takut tak dapat melihat
Aku takut tak dapat berkata-kata
Aku takut menangispun aku tak sanggup
Ataupun menelan ludahku sendiri

Aku takut memaki ibuku kelak
Aku takut mematung saat kupecahkan gelas temanku
Aku takut tak dapat menjadi bintang kelas
Aku takut bila menumpahkan cat air di atas meja guruku
Aku akan dimarahi
Aku cela

Aku takut tak tahu bagaimana caranya mencintai
Aku takut tak dapat membersihkan kotoran di pantat celanaku
Aku takut aku sombong kar’na hitamku
Aku takut tak tahu berbuat apa

Aku manusia yang terlalu takut turun ke dunia
Menatap matahari senja akupun takut
Bila malam, siapa yang melindungiku?
Bila pagi, siapa yang memberiku segelas susu?
Aku takut untuk tidak berada pada suatu ketiadaan
Tapi aku ada
Di hadapan sebuah cermin aku melihat aku yang ada
Dalam diam


SESUAP NASI DARI CITRA POLESAN


            Di tengah suasana panasnya Solo yang memuncak, kudengar suatu keributan. Keributan yang teratur, bernada, dan berritme. Tidak terlalu jelas lirik apa yang dilantunkan, namun secepatnya aku sadar bahwa itulah musik. Suara musik itu sepertinya keluar dari sebuah tape radio tua, sehingga banyak suara parsial yang dihasilkan. Kencangnya volume yang dibunyikan saat itu memancingku untuk bertanya, “Apa itu?”. “Biasanya pedagang keliling, penjual es atau apa”, jelas temanku.
            Seketika itu aku teringat kampung halamanku, Magetan. Ingatanku tertuju pada sekelompok musisi jalanan yang seringkali mangkal dari rumah ke rumah. Dengan beranggotakan dua orang, pria dan wanita bisa dipastikan mereka adalah sepasang suami istri yang sedang mengais rejeki. Sang istri berdandan layaknya seorang pesindhen, dengan kebaya dan make up muka yang menor. Sedikit-sedikit memang si ibu itu memoleskan bedak di mukanya yang berleleran keringat. Sedangkan sang suami, memakai pakaian adat Jawa Timur dan berkalungkan sebuah kotak musik di depan perutnya. Aku ingat saat itu ada warga yang iba dengan perjuangan mereka ini, kemudian mencoba memberikan mereka kesempatan untuk mempertunjukkan sesuatu. Aku ikut nimbrung dan menonton mereka di situ. Si bapak memberikan sebuah microphone kepada istrinya, dan disetelnya tape recorder yang dibawanya. Musikpun keluar dari situ, mengarah ke bagian intro lagu dan ibu itupun mulai bernyanyi. Ya, aku mulai paham, ini seperti mendengarkan orang berkaraoke dengan suara vokal yang diiringi musik elektrik dan dandanan mengundang perhatian.
Suara Sebagai Komoditas
            Dari kedua fenomena ini, kita sama-sama melihat ada musik yang diperdengarkan. Tak hanya itu, musik yang diperdengarkan sama-sama dibawakan secara berkeliling. Hal yang membedakan adalah konteksnya. Kalau yang pertama pedagang keliling itu tidak sedang menjual suara. Dengan kata lain, musik dijadikannya sebagai medium untuk memanggil dan mengundang perhatian agar orang datang dan membeli barang yang dijajakannya. Orang yang sedang menonton TV misalnya, tanpa melihat ke luar rumahpun sudah dapat memastikan bahwa ada pedagang keliling di luar sana. Bagaimana dengan fenomena sosial yang kedua? Sepasang musisi jalanan ini bermusik dalam diam, hanya dengan derap kaki mereka melangkah mendatangi rumah warga, dan berhenti pada warga yang memintanya untuk mampir. Jelaslah, pengamen ini menjual suaranya. Tidak akan diberikannya suara yang mereka jual jika tidak ada bayaran. Meskipun kita tidak tahu, sepanjang jalanpun mungkin mereka terus bernyanyi di dalam hati.
            Menarik sekali ketika pengamen ini menjual suara yang saya rasa kualitasnya masih jauh di bawah suara yang dihasilkan DVD di rumah. Suara sindhen yang sudah parau, mengingat tampilan usianya yang sudah tidak muda, disertai dandanan yang terlihat aneh di era semodern ini tentunya akan kalah bersaing bila disandingkan dengan pertunjukan musik k-pop yang ada di program TV yang konon katanya digunakan sebagai parameter musik di Indonesia. Gethuk, Nyidam Sari, Layang Kangen dan lagu-lagu campur sari lain yang banyak peminatnya menjadi andalan mereka. Mereka bermusik bukan dengan tanpa referensi. Tentunya pengalamannya terdahulu telah mengkonstruksi bangunan pengetahuannya di masa kini. Segala yang ada di dalam kelompok pengamen itu, baik kemasan maupun apa yang dipertunjukkannya merupakan akumulasi dari frame of reference dan field of experience mereka.
Memanfaatkan Citra
            Bagaimana sepasang pengamen tersebut menemukan penggemar musiknya? Bukankah mereka berkeliling dalam diam? Mereka secara tidak sadar memanfaatkan citra. Citra menurut Santosa dalam Komunikasi Seni Aplikasi Dalam Pertunjukkan Gamelan merupakan wujud yang dibentuk setelah terjadi proses “transformasi” dari wujud yang dapat diraba dilihat, dicium, dan dirasakan menjadi wujud serupa dalam benak penonton, wujud tersebut tidak lagi direpresentasikan keluar karena sudah mejadi milik pembuat citra tersebut. Sama-sama mencoba untuk memahami apa itu citra dan bagaimana wujudnya, saya mencoba untuk mengaplikasikannya ke dalam fenomena yang saya lihat. Citra visual yang sudah terlebih dahulu terbentuk di dalam benak masyarakat Jawa, tentunya akan terbaca ketika terjadi komunikasi non verbal saat mereka saling bertemu dan melihat. Mereka melihat kebaya yang dipakai, dandanan muka dan sanggul yang mewakili idiom-idiom Jawa. Itu artinya, dalam diam pun mereka berkomunikasi. Alurnya bila digambarkan akan demikian: banyak citra yang dikomunikasikan keluar dari si pengamen khususnya dalam bentuk visual, citra ditangkap melalui penglihatan, tanggapan dari penangkap citra, kemudian citra musikal menguatkan citra visual yang sebelumnya terbentuk. Citra musikal maupun visual keduanya saling mengidentifikasikan identitasnya.
            Citra visual akan selalu dimanfaatkan oleh pemusik dari waktu ke waktu. Lihat saja Lady Gaga yang selalu bermonster ria, Cherybelle yang gila memamerkan kaki ala Sailormoon-nya, atau Trio Macan dengan macan-macanannya. Sebab, polesan mempunyai kekuatan magisnya tersendiri di dalam suatu pertunjukan. Dalam pertunjukan kecil sekalipun, polesan menjadi senjata yang ampuh yang bahkan dinomor-satukan di samping kualitas musikal yang hendak dipertontonkan. Seorang Agnes Monica dengan kualitas suara yang tidak diragukan pun menyadari pentingnya memanfaatkan kekuatan citra dari penampilannya. Penampilan yang bagaimanakah, menjadi pertanyaan yang terulur panjang di panggung hiburan dan bahkan di dunia orang pinggiran dengan rupa-rupanya yang beragam serta tak jarang kontroversial.
Kesimpulan

            Kita tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kehadiran para musisi jalanan, entah itu kita inginkan atau tidak. Fenomena ini mewakili wajah kondisi sosial masyarakat Indonesia saat ini. Kehadiran mereka menyiratkan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan. Bahwa masih ada bentuk-bentuk kesenian tradisi yang hidup di tengah ramainya arus globalisasi. Sekaligus mempertanyakan bagaimanakah nasib kesenian tradisi untuk waktu yang akan datang.

MENEROPONG LEDHUG SURO DI TIMUR GUNUNG LAWU

Setiap daerah di Nusantara mempunyai kearifan lokalnya masing-masing. Di Kabupaten Magetan, pergantian tahun Saka dan Hijriyah dianggap penting bagi beberapa masyarakatnya. Pemerintah daerah dan dinas kebudayaan sebagai pusat pergerakan budaya di kabupaten ini menyelenggarakan ‘ledhug Sura’. Musik ledhug dalam perayaan ini dimaknai sebagai lesung Sura dan bedhug Muharram yang merupakan perpaduan dua budaya besar di Magetan. Musik ini unik, karena merepresentasikan Magetan di mata Nasional dengan kebudayaan negeri perbatasannya, Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Di tahun 2012, Magetan secara khusus menyelenggarakan ekshibisi ledhug dari luar daerah seperti Prambanan, Pacitan, Karanganyar, dan Solo. Dalam kurun waktu yang cukup panjang 10 tahun ini, musik ledhug mendapatkan tempat di hati masyarakatnya. Hal itu dapat diamati dari festival musik ledhug - bagian dari serangkaian besar acara peringatan tahun baru tersebut. Menurut Sutadi – penikmat yang repetitif, dari tahun ke tahun, penonton yang hadir makin ramai. Aton Rustandi – etnomusikolog yang saat itu juga mengamati jalannya festival mengatakan, bahwa pertunjukan musik ledhug ini akan terus hidup dan bertahan hingga waktu yang lama. Karena bukan hanya didukung oleh kebijakan pemerintah daerah setempat, acara ini juga didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebagai sebuah pasar, ledhug juga mampu menstimulasi kembali seniman-seniman yang ada di Magetan untuk terus bereksplorasi dengan seni.
IMG_6542.JPG
Performa Ledhug Dinas Pendidikan oleh Dolly Nofer
Ledhug Sebagai Bentuk Reproduksi Budaya
 Musik ledhug merupakan hasil dari reproduksi budaya. Reproduksi budaya merupakan upaya pemaknaan ulang budaya. Indukannya adalah pemadu-padanan budaya Jawa dan Islam yang masing-masing diwakilkan oleh citra lesung dan bedhug. Menyadari fungsinya yang digunakan dalam hari yang agung, ledhug bukan sekedar musik untuk hura-hura, tetapi juga untuk perenungan, penghayatan, dan pemaknaan nilai-nilai luhurnya.
Lesung sebagai perkakas yang urgen dalam proses penumbukan padi menjadi beras, menjadi wadah kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan keseharian masyarakat Jawa. Ketika nada pukulan alu lesung dikomposisi dalam pertimbangan warna suara, ritme dan juga dinamika, akan menghasilkan estetika musikal yang luhur. Musik yang berbahasa itu membawakan sepenggal kisah kehidupan petani kepada kita. Dengan alu yang ternyata tidak ringan, pemain lesung sekarang dapat merasakan betapa susahnya kerja petani kita dahulu sebelum hadirnya mesin, hanya untuk menghasilkan sebutir beras putih yang kita makan sebagai makanan pokok.
Bedhug mewakili citra Islami dari sekian banyak ikon yang ada. Dari sejarah budaya yang kita tahu, bedhug tidak serta merta mewakili agama apapun, termasuk Islam. Namun dalam tumbuh kembangnya di Nusantara, bedhug memiliki fungsi yang urgen dalam kegiatan peribadahan, yaitu mengumandangkan azan dari masjid kepada jemaahnya. Bedhug digunakan untuk mengkomunikasikan waktu untuk sholat. Kita tilik kembali ke masa lampau betapa masyarakat kita yang masih dominan dengan kehidupan pedesaan sangat memanfaatkan bedhug ini. Suaranya yang membahana mampu menjadi penanda yang efektif kala itu. Berbeda dengan di masa kita dewasa ini yang menggunakan televisi maupun alarm di dalam handphone maupun personal computer yang sedemikian rupa dapat menghasilkan replika suara bedhug (suara bedhug elektronik) lengkap dengan seruan muadzinnya. Melalui pemaknaan kembali musik yang dihasilkan dari bedhug ini mengingatkan kita untuk mengharmoniskan hubungan kita secara vertikal kepada Yang Esa. Nada rendah dan berat yang dihasilkan dari tabuhan bunyi bedhug juga dapat diinterprestasi sebagai simbol keagungan.
Spirit budaya tradisi itulah yang ingin dihadirkan oleh penyelenggara dalam format kebaruan. Nilai positif yang dapat dipetik di situ adalah bagaimana proses penciptaan itu mampu mewadahi keberagaman dalam kebersamaan dan kesatuan di dalam panggung festival. Garapan musik grup ledhug bisa sangat eksperimental. Berbagai alat musik dikolaborasikan dalam pencarian warna musikal yang masih terus koma untuk mencapai titik nilai estetis paling tinggi di dalam bermusik. Rasa kekeluargaan juga hadir antara pemain satu sama lain di dalam satu grup musik, antar grup musik lain, dengan pihak penyelenggara maupun antara pemain dengan penikmatnya. Seluruh masyarakat tanpa terkecuali dapat menikmati sajian musik ini.
Sifat Ledhug yang Adaptif
Musik ledhug sebenarnya merupakan musik yang adaptif karena bisa dimainkan dengan alat musik apa saja. Ledhug juga dapat digunakan untuk mengiringi sajian lagu. Dalam festival, repetoar yang sering disajikan antara lain: Pepeling, Magetan Ngumandhang, Telaga Sarangan dan Lir-ilir. Unsur melodis bisa dihasilkan oleh alat musik tambahan seperti saron, bonang, angklung dan alat musik lain, sedangkan unsur perkusi bisa diisi oleh lesung, bedhug dan atau ditambahkan dengan alat musik lain seperti djembe, kendhang dan rebana.
Dalam sifat adaptifnya pula, musik ledhug rawan hampa makna. Beberapa komposisi memberi warna baru, sehingga warna ledhug sendiri menjadi buram dalam pencitraannya di masyarakat. Memang tidak ada pakem yang menuntut musik ledhug harus begini dan begitu. Namun dibutuhkan komitmen yang tinggi dari seorang seniman dalam proses penciptaan yang dituang dalam komposisi musik ledhug.
Selain adaptif, musik ini juga dapat berdiri sendiri. Pemusik bisa memanfaatkan sifat musik ledhug ini untuk menghasilkan komposisi yang baik dan disukai banyak orang. Bisa saja dengan permainan warna bunyi tek, dung, deg, thek, yang berbeda-beda variannya, dalam ritme dan dinamika.


Festival Ledhug dan Bocah Cilik
IMG_6434.JPG
Tiga anak kecil di depan panggung ledhug oleh Dolly Nofer
Festival Musik Ledhug yang menjadi ajang pencarian komposisi musik ledhug yang nantinya akan ditampilkan dalam kirab nayoko projo, menjadi media transpirit yang ampuh bagi generasi yang akan datang. Penonton hadir dari berbagai kalangan, dan anak-anak kecil usia balita hingga remajalah yang menarik perhatian saya. Mengamati tingkah dan ekspresi mereka yang lugu, memancing tanya tentang apa yang mengundang mereka untuk datang dan bahkan berebut mendapatkan posisi penonton paling depan. Mungkinkah mereka sangat tertarik dengan gaung musik ledhug yang kebyar? Kesan apakah yang ditangkap di dalam benak mereka?
Tidak hanya menonton kakak-kakak SMA yang berpartisipasi dalam festival hari kedua tanggal 10 November 2012 misalnya, penonton anak-anak juga memadati area di hari-hari yang lain. Bagaimanapun kerasnya usaha pelawak untuk berbuat kocak, anak-anak ini tetap diam saja. Dibanding dengan penonton dewasa yang mungkin lebih bisa membaca secara audio-visual, tidak banyak wacana verbal yang dapat membekas di benak anak-anak kecuali warna-warna dan gerakan-gerakan yang mencolok. Apalagi bahasa melalui lirik yang diwacanakan di dalam lagu ataupun gendhing-gendhing yang disajikan di atas panggung. Kehadiran anak-anak ini tidak bisa diabaikan. Karena di usia mereka yang rata-rata di bawah usia belasan, merupakan masa-masa yang paling kuat dalam menangkap suatu citra visual. Suatu saat merekalah yang mempunyai keinginan kuat untuk ambil bagian dalam pertunjukan.


SANGGAR PRABANGKARA DAN JAVAJINE WARNA BARU DALAM EKSHIBISI FESTIVAL LEDHUG

IMG_6969.JPG


Foto Sanggar Prabangkara oleh Dolly Nofer

Minggu malam (11/11) alun-alun Magetan kembali mengumandangkan musik ledhug dalam Festival Seni Pertunjukan Musik Ledhug. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, dalam festival yang merupakan bagian dari serangkain perayaan 1 Suro 1946 Saka dan 1 Muharram 1434 Hijriyah di malam ini diwarnai dengan keceriaan baru. Sanggar Prabangkara di awal pertunjukan sanggup memberi atmosfer baru di panggung ini. Komposisi musik yang mereka usung bertemakan Magetan Kota Wisata berdurasi 15 menit. Musik ledhug yang merupakan musik endemik di kabupaten ini, digarap dengan kreatifitas musikal yang eksperimental. Mereka mensejajarkan permainan lesung dan bedhug dengan alat-alat musik non elektrik lain seperti saron, taganing, djembe, kendhang jaipong, drum, saxophone dan didgeridu. Teknik memainkan alat-alat musik yang mempunyai kearifannya sendiri itupun terkesan berani. Taganing dimainkan selayaknya memainkan sebuah drum, dan saron Jawa dimainkan dengan teknik tabuhan imbal-imbalan seperti pada gamelan Bali. Mereka juga memasukkan unsur musik rap ke dalam garapan lagu. Pieter (17), salah seorang penonton yang duduk di deretan depan terlihat sangat antusias. Musik yang didengarkannya dianggapnya berbeda dengan yang lain. Remaja ini rupanya menyukai permainan musik dengan tempo yang cepat dan terlihat garang. Lagi, Java Jine yang permainan djembenya sangat memukaukan penonton menambah semangat pertunjukan malam ini. Dengan membawakan lima karya, kelompok musik ini mencoba memadu-padankan musik African style dun-dun dengan djembe, dan lesung dengan djembe. Mereka mencoba memenuhi kegemaran masyarakat Magetan yang identik dengan ledhugnya, meski tidak memainkan lesung dan bedhug dalam satu karya. Eksplorasi gaya pembawaannya juga beragam sehingga memancing komunikasi dua arah antar pemain dengan penikmatnya.
IMG_7029.JPG
Penampilan Java Jine oleh Dolly Nofer
Festival Seni Pertunjukan Musik Ledhug ini berlangsung tanggal 9 November hingga 12 November 2012. Tanggal 11 November 2012 merupakan pertunjukan ekshibisi dari luar daerah Magetan. Diikuti oleh grup-grup musik seperti Sanggar Prabangkara, ekshibisi dari Pacitan, Karanganyar, Sragen, Prambanan dan Java Jine dari Solo. Pertunjukan musik yang diawali pada pukul 20:00 WIB ini berlangsung hingga pukul 23:00 WIB dengan kapasitas penonton yang semakin ramai dari hari sebelumnya. Perwakilan dari peserta ekshibisi mendapat penghargaan khusus dari pemerintah Kabupaten Magetan.
Musik yang adaptif

Musik ledhug merupakan musik rakyat yang diagendakan setiap tahunnya. Bahkan nama ledhug diambil untuk memaknai pergantian tahun Jawa dan Islam. Dengan demikian, ledhug mempunyai kekuatan yang tidak remeh ketika seharusnya dihadirkan dalam prosesi kirab nayoko projo. Musik ledhug sebenarnya merupakan musik yang adaptif karena bisa dimainkan dengan alat musik apa saja. Selain adaptif, musik ini juga bisa berdiri sendiri. Pemusik bisa memanfaatkan sifat musik ledhug ini untuk menhasilkan komposisi yang baik dan disukai banyak orang. Tanpa harus kehilangan esensi, lesung dan bedhug seharusnya dibunyikan dengan arif untuk mereka ulang kembali sejarah terkait eksistensi Magetan itu sendiri. Menyadari fungsinya yang digunakan dalam hari yang agung, ledhug bukan sekedar musik untuk hura-hura, tetapi juga untuk perenungan, penghayatan, dan pemaknaan nilai-nilai luhurnya.