Sabtu, 18 Februari 2012

Sejauh Mana Keefektifan Gambar Bahaya Merokok???

Isu ini telah lama saya dengar... Cukup menggembirakan bagi saya secara pribadi. Bahwa pemerintah kita peduli dan akan terus peduli terhadap rakyat dan segala perubahan lingkungan serta sosial kita. Rokok! Esensi sebuah rokok bagi setiap orang mungkin berbeda. Beberapa orang menganggap rokok memiliki nilai prestige, beberapa di antaranya menganggap rokok bukanlah sesuatu yang penting untuk dibicarakan, beberapa orang lainnya menganggap rokok memiliki nilai sosialis yang tinggi. Paradigma yang berbeda ini jelaslah membedakan bagaimana seseorang mengkonsumsi rokok, baik itu tingkat wajar maupun sampai ke tingkat kecanduan yang luar biasa.

Saya yakin, Anda berpendapat sama dengan saya ketika saya menyebut paham "Rua Bineda" sesuatu ada yang baik dan ada yang buruk. Begitu pula dengan rokok dan aktifitasnya, merokok. Rokok tidak berbahaya selama api belum disulutkan ke ujung batangnya.Beberapa dari kita mungkin tahu bagaimana bahaya dari merokok itu sendiri. Selain menimbulkan dampak negatif bagi si perokok (perokok aktif) juga merugikan lingkungan sekitarnya yang menjadi perokok pasif. Saya bukan perokok. Namun saya tinggal di lingkungan asap rokok yang tidak saya suka. Dan saya tahu bagaimana para perokok itu begitu susah meninggalkan kebiasaannya merokok, paling tidak di tempat umum atau di tempat-tempat khusus yang tidak dianjurkannya merokok. Sebagian dari mereka tahu bahaya merokok dari tulisan yang selalu disertakan di dalam kemasan rokok, ataupun iklan-iklan rokok, beberapa perokok mengaku mereka juga mengerti bahaya merokok secara lisan, menurut mereka itu sangat menyinggung lalu "Bagaimana lagi?" Tidak mungkin di dunia ini bebas dari asap rokok, namun upaya peminimalisiran terus dilakukan pemerintah. Tercetuslah ide menyertakan gambar yang berisikan bahaya merokok.

Lantas seberapa efektifkah ini? Belum tahu.... sejauh saya menulis ini belum saya temukan kemasan rokok yang sudah berevolusi. Namun saya membahas ini dari sisi kesejarahah bangsa kita, Indonesia. Bangsa kita merupakan bangsa yang memiliki budaya non literate. Sudah sejak dari nenek moyang bangsa kita tidak mempunyai kebiasaan menulis, dampak dari itu ada di dalam bidang kesenian, kesejarahan, kebudayaan, yang karena bidang ini memerlukan literasi-literasi dari nenek moyang. Akibatnya beberapa telah hilang ditelan masa, dan generasi kita termasuk generasi korban dari kurang adanya budaya literate itu. Lalu apa hubungannya dengan rokok? Pertama-tama saya ingin bertanya, darimanakah seseorang belajar merokok? Dari video visual bukan? Pertama, bangsa kita lebih mudah mencotoh dan meniru dari apa yang terlihat. Peraturan mengatur iklan rokok untuk tidak menayangkan sama sekali bagaimana seseorang memegang, menggunakan, atau menghisap rokok. Jelas dari situ seseorang tidak dapat belajar menggunakan rokok. Jawaban yang benar adalah, mereka belajar merokok dengan melihat orang lain. Kedua, citra yang ditawarkan oleh banyak produsen rokok melahirkan mitos-mitos baru bagi para calon konsumennya. Misal: Selera lelaki yang ditunjukkan dengan aktifitas seorang lelaki yang memanjat tebing dan berhenti di atas tebing setelahnya. Seolah pemirsa diajak berpikir dari mana inspirasi atau keberanian itu datang kalau bukan dari sebatang rokok. Ketiga faktanya bukan tidak ada gerakan-gerakan bebas rokok ataupun seminar-seminar menyangkut persoalan besar yang akan dihadapi ribuan buruh pabrik tembakau tanpa adanya pasar itu lagi. Bagian periklanan tetntunya paham betul akan bagaimana pembentukan citra dan menarik konsumen. Di Thailand, rokok dijual bebas di pasaran dengan bungkus rokok yang menurut saya kelewat mengerikan karena menampilkan segala bentuk dampak negatif dari merokok. Di samping itu pennguna rokok hanya mempunyai tempat-tempat tertentu untuk menhisap rokok tidak secara sembarangan. Jadi kesimpulan yang saya ambil, media periklanan adalah satu-satunya pihak di bawah produsen besar yang bertanggung jawab atas pembentukan citra dan mitos di kalangan calon konsumen. Sementara masyarakat bebas mengiterpretasi iklan-iklan yang rokok sesuai dengan kehendak diri.

2 komentar: