Kamis, 24 April 2014

MENEROPONG LEDHUG SURO DI TIMUR GUNUNG LAWU

Setiap daerah di Nusantara mempunyai kearifan lokalnya masing-masing. Di Kabupaten Magetan, pergantian tahun Saka dan Hijriyah dianggap penting bagi beberapa masyarakatnya. Pemerintah daerah dan dinas kebudayaan sebagai pusat pergerakan budaya di kabupaten ini menyelenggarakan ‘ledhug Sura’. Musik ledhug dalam perayaan ini dimaknai sebagai lesung Sura dan bedhug Muharram yang merupakan perpaduan dua budaya besar di Magetan. Musik ini unik, karena merepresentasikan Magetan di mata Nasional dengan kebudayaan negeri perbatasannya, Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Di tahun 2012, Magetan secara khusus menyelenggarakan ekshibisi ledhug dari luar daerah seperti Prambanan, Pacitan, Karanganyar, dan Solo. Dalam kurun waktu yang cukup panjang 10 tahun ini, musik ledhug mendapatkan tempat di hati masyarakatnya. Hal itu dapat diamati dari festival musik ledhug - bagian dari serangkaian besar acara peringatan tahun baru tersebut. Menurut Sutadi – penikmat yang repetitif, dari tahun ke tahun, penonton yang hadir makin ramai. Aton Rustandi – etnomusikolog yang saat itu juga mengamati jalannya festival mengatakan, bahwa pertunjukan musik ledhug ini akan terus hidup dan bertahan hingga waktu yang lama. Karena bukan hanya didukung oleh kebijakan pemerintah daerah setempat, acara ini juga didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebagai sebuah pasar, ledhug juga mampu menstimulasi kembali seniman-seniman yang ada di Magetan untuk terus bereksplorasi dengan seni.
IMG_6542.JPG
Performa Ledhug Dinas Pendidikan oleh Dolly Nofer
Ledhug Sebagai Bentuk Reproduksi Budaya
 Musik ledhug merupakan hasil dari reproduksi budaya. Reproduksi budaya merupakan upaya pemaknaan ulang budaya. Indukannya adalah pemadu-padanan budaya Jawa dan Islam yang masing-masing diwakilkan oleh citra lesung dan bedhug. Menyadari fungsinya yang digunakan dalam hari yang agung, ledhug bukan sekedar musik untuk hura-hura, tetapi juga untuk perenungan, penghayatan, dan pemaknaan nilai-nilai luhurnya.
Lesung sebagai perkakas yang urgen dalam proses penumbukan padi menjadi beras, menjadi wadah kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan keseharian masyarakat Jawa. Ketika nada pukulan alu lesung dikomposisi dalam pertimbangan warna suara, ritme dan juga dinamika, akan menghasilkan estetika musikal yang luhur. Musik yang berbahasa itu membawakan sepenggal kisah kehidupan petani kepada kita. Dengan alu yang ternyata tidak ringan, pemain lesung sekarang dapat merasakan betapa susahnya kerja petani kita dahulu sebelum hadirnya mesin, hanya untuk menghasilkan sebutir beras putih yang kita makan sebagai makanan pokok.
Bedhug mewakili citra Islami dari sekian banyak ikon yang ada. Dari sejarah budaya yang kita tahu, bedhug tidak serta merta mewakili agama apapun, termasuk Islam. Namun dalam tumbuh kembangnya di Nusantara, bedhug memiliki fungsi yang urgen dalam kegiatan peribadahan, yaitu mengumandangkan azan dari masjid kepada jemaahnya. Bedhug digunakan untuk mengkomunikasikan waktu untuk sholat. Kita tilik kembali ke masa lampau betapa masyarakat kita yang masih dominan dengan kehidupan pedesaan sangat memanfaatkan bedhug ini. Suaranya yang membahana mampu menjadi penanda yang efektif kala itu. Berbeda dengan di masa kita dewasa ini yang menggunakan televisi maupun alarm di dalam handphone maupun personal computer yang sedemikian rupa dapat menghasilkan replika suara bedhug (suara bedhug elektronik) lengkap dengan seruan muadzinnya. Melalui pemaknaan kembali musik yang dihasilkan dari bedhug ini mengingatkan kita untuk mengharmoniskan hubungan kita secara vertikal kepada Yang Esa. Nada rendah dan berat yang dihasilkan dari tabuhan bunyi bedhug juga dapat diinterprestasi sebagai simbol keagungan.
Spirit budaya tradisi itulah yang ingin dihadirkan oleh penyelenggara dalam format kebaruan. Nilai positif yang dapat dipetik di situ adalah bagaimana proses penciptaan itu mampu mewadahi keberagaman dalam kebersamaan dan kesatuan di dalam panggung festival. Garapan musik grup ledhug bisa sangat eksperimental. Berbagai alat musik dikolaborasikan dalam pencarian warna musikal yang masih terus koma untuk mencapai titik nilai estetis paling tinggi di dalam bermusik. Rasa kekeluargaan juga hadir antara pemain satu sama lain di dalam satu grup musik, antar grup musik lain, dengan pihak penyelenggara maupun antara pemain dengan penikmatnya. Seluruh masyarakat tanpa terkecuali dapat menikmati sajian musik ini.
Sifat Ledhug yang Adaptif
Musik ledhug sebenarnya merupakan musik yang adaptif karena bisa dimainkan dengan alat musik apa saja. Ledhug juga dapat digunakan untuk mengiringi sajian lagu. Dalam festival, repetoar yang sering disajikan antara lain: Pepeling, Magetan Ngumandhang, Telaga Sarangan dan Lir-ilir. Unsur melodis bisa dihasilkan oleh alat musik tambahan seperti saron, bonang, angklung dan alat musik lain, sedangkan unsur perkusi bisa diisi oleh lesung, bedhug dan atau ditambahkan dengan alat musik lain seperti djembe, kendhang dan rebana.
Dalam sifat adaptifnya pula, musik ledhug rawan hampa makna. Beberapa komposisi memberi warna baru, sehingga warna ledhug sendiri menjadi buram dalam pencitraannya di masyarakat. Memang tidak ada pakem yang menuntut musik ledhug harus begini dan begitu. Namun dibutuhkan komitmen yang tinggi dari seorang seniman dalam proses penciptaan yang dituang dalam komposisi musik ledhug.
Selain adaptif, musik ini juga dapat berdiri sendiri. Pemusik bisa memanfaatkan sifat musik ledhug ini untuk menghasilkan komposisi yang baik dan disukai banyak orang. Bisa saja dengan permainan warna bunyi tek, dung, deg, thek, yang berbeda-beda variannya, dalam ritme dan dinamika.


Festival Ledhug dan Bocah Cilik
IMG_6434.JPG
Tiga anak kecil di depan panggung ledhug oleh Dolly Nofer
Festival Musik Ledhug yang menjadi ajang pencarian komposisi musik ledhug yang nantinya akan ditampilkan dalam kirab nayoko projo, menjadi media transpirit yang ampuh bagi generasi yang akan datang. Penonton hadir dari berbagai kalangan, dan anak-anak kecil usia balita hingga remajalah yang menarik perhatian saya. Mengamati tingkah dan ekspresi mereka yang lugu, memancing tanya tentang apa yang mengundang mereka untuk datang dan bahkan berebut mendapatkan posisi penonton paling depan. Mungkinkah mereka sangat tertarik dengan gaung musik ledhug yang kebyar? Kesan apakah yang ditangkap di dalam benak mereka?
Tidak hanya menonton kakak-kakak SMA yang berpartisipasi dalam festival hari kedua tanggal 10 November 2012 misalnya, penonton anak-anak juga memadati area di hari-hari yang lain. Bagaimanapun kerasnya usaha pelawak untuk berbuat kocak, anak-anak ini tetap diam saja. Dibanding dengan penonton dewasa yang mungkin lebih bisa membaca secara audio-visual, tidak banyak wacana verbal yang dapat membekas di benak anak-anak kecuali warna-warna dan gerakan-gerakan yang mencolok. Apalagi bahasa melalui lirik yang diwacanakan di dalam lagu ataupun gendhing-gendhing yang disajikan di atas panggung. Kehadiran anak-anak ini tidak bisa diabaikan. Karena di usia mereka yang rata-rata di bawah usia belasan, merupakan masa-masa yang paling kuat dalam menangkap suatu citra visual. Suatu saat merekalah yang mempunyai keinginan kuat untuk ambil bagian dalam pertunjukan.


SANGGAR PRABANGKARA DAN JAVAJINE WARNA BARU DALAM EKSHIBISI FESTIVAL LEDHUG

IMG_6969.JPG


Foto Sanggar Prabangkara oleh Dolly Nofer

Minggu malam (11/11) alun-alun Magetan kembali mengumandangkan musik ledhug dalam Festival Seni Pertunjukan Musik Ledhug. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, dalam festival yang merupakan bagian dari serangkain perayaan 1 Suro 1946 Saka dan 1 Muharram 1434 Hijriyah di malam ini diwarnai dengan keceriaan baru. Sanggar Prabangkara di awal pertunjukan sanggup memberi atmosfer baru di panggung ini. Komposisi musik yang mereka usung bertemakan Magetan Kota Wisata berdurasi 15 menit. Musik ledhug yang merupakan musik endemik di kabupaten ini, digarap dengan kreatifitas musikal yang eksperimental. Mereka mensejajarkan permainan lesung dan bedhug dengan alat-alat musik non elektrik lain seperti saron, taganing, djembe, kendhang jaipong, drum, saxophone dan didgeridu. Teknik memainkan alat-alat musik yang mempunyai kearifannya sendiri itupun terkesan berani. Taganing dimainkan selayaknya memainkan sebuah drum, dan saron Jawa dimainkan dengan teknik tabuhan imbal-imbalan seperti pada gamelan Bali. Mereka juga memasukkan unsur musik rap ke dalam garapan lagu. Pieter (17), salah seorang penonton yang duduk di deretan depan terlihat sangat antusias. Musik yang didengarkannya dianggapnya berbeda dengan yang lain. Remaja ini rupanya menyukai permainan musik dengan tempo yang cepat dan terlihat garang. Lagi, Java Jine yang permainan djembenya sangat memukaukan penonton menambah semangat pertunjukan malam ini. Dengan membawakan lima karya, kelompok musik ini mencoba memadu-padankan musik African style dun-dun dengan djembe, dan lesung dengan djembe. Mereka mencoba memenuhi kegemaran masyarakat Magetan yang identik dengan ledhugnya, meski tidak memainkan lesung dan bedhug dalam satu karya. Eksplorasi gaya pembawaannya juga beragam sehingga memancing komunikasi dua arah antar pemain dengan penikmatnya.
IMG_7029.JPG
Penampilan Java Jine oleh Dolly Nofer
Festival Seni Pertunjukan Musik Ledhug ini berlangsung tanggal 9 November hingga 12 November 2012. Tanggal 11 November 2012 merupakan pertunjukan ekshibisi dari luar daerah Magetan. Diikuti oleh grup-grup musik seperti Sanggar Prabangkara, ekshibisi dari Pacitan, Karanganyar, Sragen, Prambanan dan Java Jine dari Solo. Pertunjukan musik yang diawali pada pukul 20:00 WIB ini berlangsung hingga pukul 23:00 WIB dengan kapasitas penonton yang semakin ramai dari hari sebelumnya. Perwakilan dari peserta ekshibisi mendapat penghargaan khusus dari pemerintah Kabupaten Magetan.
Musik yang adaptif

Musik ledhug merupakan musik rakyat yang diagendakan setiap tahunnya. Bahkan nama ledhug diambil untuk memaknai pergantian tahun Jawa dan Islam. Dengan demikian, ledhug mempunyai kekuatan yang tidak remeh ketika seharusnya dihadirkan dalam prosesi kirab nayoko projo. Musik ledhug sebenarnya merupakan musik yang adaptif karena bisa dimainkan dengan alat musik apa saja. Selain adaptif, musik ini juga bisa berdiri sendiri. Pemusik bisa memanfaatkan sifat musik ledhug ini untuk menhasilkan komposisi yang baik dan disukai banyak orang. Tanpa harus kehilangan esensi, lesung dan bedhug seharusnya dibunyikan dengan arif untuk mereka ulang kembali sejarah terkait eksistensi Magetan itu sendiri. Menyadari fungsinya yang digunakan dalam hari yang agung, ledhug bukan sekedar musik untuk hura-hura, tetapi juga untuk perenungan, penghayatan, dan pemaknaan nilai-nilai luhurnya.

Sabtu, 18 Februari 2012

Sejauh Mana Keefektifan Gambar Bahaya Merokok???

Isu ini telah lama saya dengar... Cukup menggembirakan bagi saya secara pribadi. Bahwa pemerintah kita peduli dan akan terus peduli terhadap rakyat dan segala perubahan lingkungan serta sosial kita. Rokok! Esensi sebuah rokok bagi setiap orang mungkin berbeda. Beberapa orang menganggap rokok memiliki nilai prestige, beberapa di antaranya menganggap rokok bukanlah sesuatu yang penting untuk dibicarakan, beberapa orang lainnya menganggap rokok memiliki nilai sosialis yang tinggi. Paradigma yang berbeda ini jelaslah membedakan bagaimana seseorang mengkonsumsi rokok, baik itu tingkat wajar maupun sampai ke tingkat kecanduan yang luar biasa.

Saya yakin, Anda berpendapat sama dengan saya ketika saya menyebut paham "Rua Bineda" sesuatu ada yang baik dan ada yang buruk. Begitu pula dengan rokok dan aktifitasnya, merokok. Rokok tidak berbahaya selama api belum disulutkan ke ujung batangnya.Beberapa dari kita mungkin tahu bagaimana bahaya dari merokok itu sendiri. Selain menimbulkan dampak negatif bagi si perokok (perokok aktif) juga merugikan lingkungan sekitarnya yang menjadi perokok pasif. Saya bukan perokok. Namun saya tinggal di lingkungan asap rokok yang tidak saya suka. Dan saya tahu bagaimana para perokok itu begitu susah meninggalkan kebiasaannya merokok, paling tidak di tempat umum atau di tempat-tempat khusus yang tidak dianjurkannya merokok. Sebagian dari mereka tahu bahaya merokok dari tulisan yang selalu disertakan di dalam kemasan rokok, ataupun iklan-iklan rokok, beberapa perokok mengaku mereka juga mengerti bahaya merokok secara lisan, menurut mereka itu sangat menyinggung lalu "Bagaimana lagi?" Tidak mungkin di dunia ini bebas dari asap rokok, namun upaya peminimalisiran terus dilakukan pemerintah. Tercetuslah ide menyertakan gambar yang berisikan bahaya merokok.

Lantas seberapa efektifkah ini? Belum tahu.... sejauh saya menulis ini belum saya temukan kemasan rokok yang sudah berevolusi. Namun saya membahas ini dari sisi kesejarahah bangsa kita, Indonesia. Bangsa kita merupakan bangsa yang memiliki budaya non literate. Sudah sejak dari nenek moyang bangsa kita tidak mempunyai kebiasaan menulis, dampak dari itu ada di dalam bidang kesenian, kesejarahan, kebudayaan, yang karena bidang ini memerlukan literasi-literasi dari nenek moyang. Akibatnya beberapa telah hilang ditelan masa, dan generasi kita termasuk generasi korban dari kurang adanya budaya literate itu. Lalu apa hubungannya dengan rokok? Pertama-tama saya ingin bertanya, darimanakah seseorang belajar merokok? Dari video visual bukan? Pertama, bangsa kita lebih mudah mencotoh dan meniru dari apa yang terlihat. Peraturan mengatur iklan rokok untuk tidak menayangkan sama sekali bagaimana seseorang memegang, menggunakan, atau menghisap rokok. Jelas dari situ seseorang tidak dapat belajar menggunakan rokok. Jawaban yang benar adalah, mereka belajar merokok dengan melihat orang lain. Kedua, citra yang ditawarkan oleh banyak produsen rokok melahirkan mitos-mitos baru bagi para calon konsumennya. Misal: Selera lelaki yang ditunjukkan dengan aktifitas seorang lelaki yang memanjat tebing dan berhenti di atas tebing setelahnya. Seolah pemirsa diajak berpikir dari mana inspirasi atau keberanian itu datang kalau bukan dari sebatang rokok. Ketiga faktanya bukan tidak ada gerakan-gerakan bebas rokok ataupun seminar-seminar menyangkut persoalan besar yang akan dihadapi ribuan buruh pabrik tembakau tanpa adanya pasar itu lagi. Bagian periklanan tetntunya paham betul akan bagaimana pembentukan citra dan menarik konsumen. Di Thailand, rokok dijual bebas di pasaran dengan bungkus rokok yang menurut saya kelewat mengerikan karena menampilkan segala bentuk dampak negatif dari merokok. Di samping itu pennguna rokok hanya mempunyai tempat-tempat tertentu untuk menhisap rokok tidak secara sembarangan. Jadi kesimpulan yang saya ambil, media periklanan adalah satu-satunya pihak di bawah produsen besar yang bertanggung jawab atas pembentukan citra dan mitos di kalangan calon konsumen. Sementara masyarakat bebas mengiterpretasi iklan-iklan yang rokok sesuai dengan kehendak diri.