Minggu, 29 Mei 2011

Menunda Pekerjaan = Menyiksa Diri di Kemudian Hari

Menunda pekerjaan adalah salah satu habit yang menyenangkan dan sulit ditinggalkan bagi sebagian orang... Pasalnya kita membiarkan karsa kita mengelak tugas ato pekerjaan yang semestinya dilakukan sekarang atau segera. Kita menghindari pekerjaan dengan alasan-alasan yang dibuat oleh diri sendiri selogis mungkin sehingga otak terpaksa meng-accept alasan tersebut dan berakhir pada suasana hati yang tenang. Tahukah kita? Bahwa sebenarnya otak dan hati dipaksa untuk menuruti keinginan lain dalam diri kita. Seperti halnya menjadi dua pribadi dalam satu tubuh, yang satu ke kanan dan ke kiri. Otak kita memang dirancang untuk menerima dan mengingat segala bentuk stimulasi yang ada walaupun kita seorang yang pikun sekalipun. Sehingga tetap terbersit perasaan tidak tenang akan sesuatu hal yang menjadi kewajiban kita.


Perasaan tidak tenang ini akan semakin kita elak dan semakin besar keinginan kita untuk menolak respon otak ini, semakin kita dikejar-kejar perasaan TIDAK TENANG. Hal ini berlaku untuk satu dua kali kebiasaan menunda pekerjaan. Setelah kali ke-3 dst, otak dan perasaan kita sudah terbiasa dan mulai memasuki zona aman. Sampai.......

Indera kita mendapat respon dari orang lain, atau dari alat pengingat akan pekerjaan-pekerjaan kita. Semakin banyak pekerjaan yang ditunda, akan semakin malas kita mengerjakannya. Kalaupun kita berangkat mengerjakannya, hasilnya tidak akan optimal karena kita mengerjakannya dengan setengah hati...... Sangat MENYIKSA.... apalagi bila pekerjaan itu tidak bisa dialih tangankan kepada orang lain. Maka, segeralah mengerjakan tugas sekecil apapun pada saat kita memang dijadwalkan untuk mengerjakannya sekarang.

Sabtu, 28 Mei 2011

Tangan Kiri Dimanja Sekaligus Dianak-tirikan

Suatu ketika ada tamu berkunjung ke rumah saya. Sebagai tuan rumah pun saya bergegas membuatkan minuman untuk tamu saya tersebut. Ketika saya membawa baki yang berisi minuman, saya merasa bahwa tangan kiri saya tidak mampu menopang sekuat tangan kanan saya. Kemudian saya berpikir, mengapa demikian???

Tangan kiri...
Mempunyai jumlah jari dan sistem pergerakan yang sama dengan tangan kanan. Bagi sebagian orang fungsi dari tangan kiri diminimalkan. Dalam adat ketimuran, menggunakan tangan kiri pada saat tertentu seperti di saat mengambil makanan, bersalaman dan memberikan sesuatu kepada orang lain dianggap tidak sopan. Pada keseharian, kecenderungan memanjakan tangan kiri pun berlangsung secara wajar. Tangan kiri semakin jarang digunakan untuk membuka pintu mobil misalnya, membuang sesuatu, meraih benda-benda dan masih banyak lagi. Kita memperkerjakan tangan kanan selayaknya buruh. Sebagai orang yang tidak kidal, kita memanjakan dan sekaligus menganak-tirikan fungsi tangan kiri. Tangan kiri jarang digunakan untuk bekerja dan akibatnya otot tangan kiri tidak berkembang. Otot tangan kiri kemudian menjadi lebih kecil dan daya kekuatannya tidak sebesar tangan kanan. Tangan kiri bisa juga dikatakan sebagai tangan yang lemah dan tidak bisa apa-apa, tidak bisa diandalkan, meskipun harga dari semua yang diciptakan Tuhan itu sama berharganya. Namun perlakuan kita untuk memfungsikan karunia Tuhan itulah menjadikannya berbeda. 





(Catatan bagi 'Tangan kiri'-anak yang dimanja)